Uncategorized

Mengurai Problem ‘Logika Segmentatif’ HMI

Oleh: Nurul Hamim

Ciputat,- Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, yang memiliki tumpukan historis perihal perkembangan intelektual Islam di Indonesia, kini berada di persimpangan jalan. Dengan latar belakang sosok-sosok intelektual besar seperti mendiang Nurcholish Madjid dan Azyumardi Azra, HMI Ciputat diharapkan dapat terus menjadi pusat perkembangan intelektual. Namun, tantangan yang dihadapi saat ini sangat kompleks dan memerlukan pemahaman komprehensif mengenai dinamika internal dan eksternal organisasi dan orientasi ke depannya.

Logika “segmentasi”, yang mengakar pada pola pemikiran yang membagi antara pihak yang dianggap memiliki nilai surplus dan defisit terhadap kubunya, telah menjadi salah satu masalah utama dalam upaya perkaderan di HMI Ciputat. Pemimpin ideal, dalam banyak kasus, bukan lagi tentang integritas, kapabilitas, dan kapasitas intelektual, tetapi lebih tentang afiliasi kelompok dan dukungan politik. Bila pihak yang dijadikan target pemimpin berasal dari kalangannya, dukungan akan dilakukan tanpa pertimbangan lebih lanjut. Sebaliknya, mereka yang berada di luar garis edar golongan akan dikesampingkan.

Fenomena ini tidak terlepas dari praktek politik identitas yang berkembang dalam konteks politik Indonesia. Ahmad Syafii Maarif (2010) dalam “Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Indonesia,”menyatakan bahwa politik identitas berkembang seiring dengan menguatnya masalah etnis, ideologi, agama, dan kepentingan-kepentingan regional. Hal ini diperparah oleh elit-elit yang memanfaatkan identitas untuk mengamplifikasi kepentingan mereka sendiri, menciptakan segmentasi yang tajam dalam masyarakat, termasuk misalnya di dalam tubuh HMI Cabang Ciputat.

HMI Ciputat yang digadang-gadang menjadi pusat perkembangan intelektual, tidak lain tengah berada di persimpangan jalan. Alih-alih berpegang pada tataran ideal, yang terjadi justru menyuburkan praktek keberpihakan. Fenomena keberpihakan dan upaya untuk mengotak-ngotakan terhadap apa yang datang dari suatu kelompok tertentu, merupakan perwujudan dari politik identitas.

Dalam konteks di Indonesia, menurut Maarif, politik identitas berkembang sehubungan dengan menguatnya masalah etnis, ideologi, agama, dan kepentingan-kepentingan regional yang umumnya direpresentasikan dan diamplifikasikan oleh elit-elit yang tengah “haus kuasa”. Lagi-lagi masalahnya berpusat pada persoalan identitas yang tidak tunggal. HMI akan cenderung pada pihak yang menguntungkan dan memberikan surplus pada organisasi ini, meski dengan catatan mereka jauh dari kata ideal.

‘Problem Solver’ atau ‘Problem Maker’?

Pada akhirnya, jika logika segmentasi masih dipertahankan, harus diakui bahwa iktikad untuk mengikutsertakan HMI Cabang Ciputat dalam upaya membentuk sosok pemimpin ideal masa depan, tidak lebih atau bahkan mungkin banyak kurangnya, hanyalah perihal wacana utopis.
Ada dua alasan untuk mengatakan wacana itu dikategorikan utopis. Pertama, kondisi HMI hari ini tidak lagi tampil sebagai pengurai masalah (problem solver) melainkan sebagai pencipta masalah (problem maker). Semakin ber-HMI-(Ciputat), alih-alih tercerahkan, yang terjadi justru tergelapkan. Semakin ber-HMI alih-alih memerdekakan kader, kenyataannya memperbudak kader. Semakin ber-HMI alih-alih egaliter, faktanya malah arbitrer. Kedua, masalahnya bukan karena HMI tidak mampu untuk menciptakan pemimpin ideal. Persoalannya adalah soal fragmentasi. Diakui atau tidak, HMI Ciputat saat ini bekerja dibawah hukum dan ritme fragmentasi. Ada “HMI Ciputat” dan “non-HMI Ciputat”, ada “gerbong kami” dan “gerbong mereka, ada “minna” dan “minhum”.

Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, HMI Cabang Ciputat perlu melahirkan konsep kejuangan HMI 5.0 yang bermuara kepada masyarakat yang bisa menikmati hidup dan mampu meminimalisir kesenjangan yang menjadi tontonan kita setiap hari. Dalam gerakan kejuangan HMI 5.0, saatnya kader HMI Ciputat berkolaborasi dan bukan berkompetisi semata, terutama dengan memprioritaskan Sumber Daya Manusia (SDM) dari kader-kader yang ada di dalamnya. Pendekatan model ini menekankan pentingnya teknologi sebagai alat untuk memajukan manusia, bukan sebaliknya. HMI Cabang Ciputat harus kembali kepada prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan keadilan sosial, meminjam istilah Nurcholish Madjid, yaitu dengan berfokus pada pengembangan sumber daya manusia yang mampu berpikir kritis, inovatif, dan berintegritas.

Inisiatif Apa yang Bisa Digarap?

Transformasi kepemimpinan di HMI Ciputat membutuhkan langkah-langkah strategis yang terstruktur dan berkelanjutan. Penguatan pendidikan kader yang kuat dan berkelanjutan adalah kunci untuk menciptakan pemimpin yang berintegritas. Program pendidikan harus dirancang untuk mengembangkan kemampuan intelektual, moral, dan kepemimpinan kader. Untuk mengatasi masalah segmentasi dan fragmentasi, HMI harus mendorong inklusivitas di semua tingkatan organisasi.

Semua kader, terlepas dari latar belakang atau afiliasi kelompok, harus diberikan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan memimpin. Kepemimpinan di HMI harus berbasis pada nilai-nilai keadilan, integritas, dan kemanusiaan.

Pemimpin harus mampu menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai ini dalam setiap tindakan dan keputusan mereka. HMI juga harus membangun jaringan dan kolaborasi dengan organisasi lain, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk memperluas wawasan dan memperkuat kapasitas organisasi. Teknologi harus digunakan sebagai alat untuk memajukan organisasi dan mempermudah komunikasi serta koordinasi antara kader. Platform digital dapat digunakan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam organisasi.

Perkaderan di HMI Ciputat tidak lepas dari berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar organisasi. Namun, tantangan ini juga membawa peluang untuk melakukan perubahan yang positif. Dengan komitmen dan upaya bersama, HMI Ciputat dapat kembali ke jalurnya sebagai pusat perkembangan intelektual dan pemimpin masa depan yang ideal. Tantangan internal mencakup fragmentasi dan segmentasi, budaya organisasi, dan kualitas sumber daya manusia. Menciptakan kesatuan di antara kader yang terfragmentasi adalah tantangan utama yang harus dihadapi.

Mengubah budaya organisasi yang telah tertanam dalam waktu lama membutuhkan waktu dan usaha yang konsisten. Kualitas sumber daya manusia di dalam organisasi harus ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan yang berkesinambungan.
Tantangan eksternal mencakup dinamika politik dan teknologi serta inovasi. Perubahan dalam lanskap politik nasional dapat mempengaruhi stabilitas dan fokus organisasi. Kemajuan teknologi yang cepat memerlukan adaptasi dan inovasi terus-menerus agar tidak tertinggal.

Peluang regenerasi kepemimpinan dapat dimanfaatkan untuk membawa perubahan dan inovasi dalam organisasi. Membangun kolaborasi dengan berbagai pihak dapat memperkuat posisi HMI dalam berbagai sektor. Teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam berbagai aspek organisasi.

HMI Cabang Ciputat memiliki potensi besar untuk kembali menjadi pusat perkembangan intelektual dan pemimpin masa depan yang ideal. Namun, untuk mencapai tujuan ini, organisasi harus mengatasi berbagai tantangan yang ada, baik internal maupun eksternal. Melalui pendidikan kader yang kuat, inklusivitas, kepemimpinan berbasis nilai, kolaborasi dengan pihak eksternal, dan pemanfaatan teknologi, HMI Ciputat dapat mencapai transformasi yang diharapkan.

Untuk memastikan bahwa HMI Ciputat dapat mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada, reformasi pendidikan kader harus diimplementasikan dengan kurikulum yang komprehensif dan terstruktur untuk pendidikan kader yang mencakup aspek intelektual, moral, dan kepemimpinan. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas harus diterapkan dalam setiap aspek organisasi, termasuk dalam proses pemilihan pemimpin dan pengambilan keputusan. HMI harus aktif membangun jaringan kolaborasi dengan berbagai organisasi dan institusi untuk memperkuat posisi dan kapasitas HMI Ciputat. Adaptasi teknologi harus diadopsi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan komunikasi dalam organisasi. Fokus pada pengembangan sumber daya manusia dengan mengalokasikan sumber daya yang cukup untuk pelatihan dan pengembangan keterampilan bagi kader.

Walakhir, dengan cara demikian, paling tidak HMI Ciputat dapat kembali ke jalurnya dan memupuk kembali harapan bahwa cabang ini memang benar-benar menjadi pusat perkembangan intelektual dan pemimpin masa depan yang ideal di tubuh HMI. Perjalanan ini mungkin tidak mudah, tetapi dengan komitmen dan kerja keras, HMI Ciputat dapat mencapai transformasi yang diharapkan dan memberikan kontribusi yang signifikan bagi masa depan Indonesia. Semoga saja!

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close