Nasional

GMPI: Indonesia Darurat Ruang Aman Perempuan dan Anak

Sinarpembaruan.com-Jakarta. Komnas Perempuan melaporkan bentangan data periode 2015-2021 tercatat 51 kasus kekerasan seksual atau sekitar 87, 91%. Diperkuat oleh Lingkar Studi Feminis (LSF) juga menjelaskan bahwa kekerasan seksual pada wilayah pendidikan justru makin meningkat tergambar pada data survei dari awal Januari 2022 hingga akhir Maret terdapat sekitar 27 kasus yang tercatat paling banyak “kekerasan seksual” terjadi pada ruang lingkup lembaga pendidikan.

Tindak pidana kekerasan seksual merupakan kejahatan yang keji. Sebab dapat mempengaruhi pada proses pertumbuhan anak. Baik secara fisik maupun mental kejiwaan korban, sehingga butuh waktu yang tidak singkat dalam pemulihan korban. (Jakarta Jumat, 22 Juli 2022)

Menanggapi hal tersebut, Dedy Candra selaku Wasekjen Generasi Muda Pembangunan (GMPI) menyatakan bahwa pentingnya untuk menciptakan ruang belajar yang ramah bagi perempuan dan anak serta menindak tegas pelaku kekerasan seksual.

Lanjutnya, Negara harus menangani kasus ini dengan serius dan memastikan bahwa negara bisa mengusut tuntas! Serta mendampingi para korban hingga pulih.

Kekerasan seksual dapat merusak masa depan anak. Dan tentu saja ini akan berimbas terhadap generasi penerus bangsa. Jika negara abai, ini akan menjadi bom waktu dikemudian hari. Jelas Dedy Wasekjen GMPI.

Show More

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/rsmgsdaa/public_html/sinarpembaruan.com/wp-content/themes/jannah/framework/classes/class-tielabs-filters.php on line 328

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close