Uncategorized

Ini Dia Sejarah LGBT, dari Mesir Kuno Hingga Kota Mesum Pompeii


Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/rsmgsdaa/public_html/sinarpembaruan.com/wp-content/themes/jannah/framework/classes/class-tielabs-filters.php on line 328

SINARPEMBARUAN.COM – Isu tentang LGBT saat ini tengah viral di Indonesia. Penyebabnya Youtuber Deddy Corbuzier membuat konten bertema LGBT dengan mengundang pasangan gay asal Indonesia dan Jerman Ragil Mahardika dan Frederick Vollert di podcastnya.

Fenomena pasangan penyuka sesama jenis sebenarnya sudah lama terjadi bahkan ditengarai sejak zaman sebelum masehi. Dikutip dari Wikipedia, pasangan homoseksual pertama yang tercatat dalam sejarah, adalah pasangan laki-laki dari Mesir Kuno, Khnumhotep dan Niankhkhnum.

Mereka hidup sekitar tahun 2400 SM. Dugaan keduanya sebagai gay adalah karena pasangan ini digambarkan dalam posisi hidung mencium, pose paling intim dalam seni Mesir, dan dikelilingi oleh apa yang tampaknya menjadi warisan dan istri mereka.

Namun penafsiran ini diragukan oleh arkeolog lain, seperti David O’Connor yang menafsirkan mereka berdua mungkin adalah saudara dan bahkan kemungkinan saudara kembar sehingga bisa berpose seintim itu.

Keberadaan Khnumhotep dan Niankhkhnum yang disebut sebagai pasangan homo pertama di dunia membawa penelitian lebih lanjut soal budaya homoseksual di daerah yang lebih luas yaitu daratan Afrika. Menurut antropolog Stephen O. Murray dan Will Roscoe melaporkan bahwa perempuan di Lesotho (sebuah kawasan di Afrika Selatan) melakukan sanksi sosial berupa “hubungan erotis jangka panjang” yang disebut motsoalle.

E. E. Evans-Pritchard juga mencatat bahwa prajurit laki-laki suku Azande di Kongo utara rutin mengambil kekasih laki-laki muda antara usia dua belas dan dua puluh, yang membantu tugas rumah tangga dan berpartisipasi dalam seks interkrural dengan suami mereka yang lebih tua.

Namun, praktik ini telah mati sejak awal abad 20, setelah bangsa Eropa menguasai negara-negara Afrika, tetapi sempat diceritakan kalangan tetua kepada Evans-Pritchard.

Pompeii Kota Mesum Sarang Homoseksual

Beralih ke abad di awal tahun Masehi. Di Italia, tepatnya pada tahun 70 Masehi, ada sebuah kota yang paling kaya di zaman kuno bernama Pompeii. Tak hanya memiliki sumber daya yang melimpah, Pompeii juga punya teknologi tinggi serta arsitektur yang super megah pada zamannya.

Menurut para peneliti, meski hidup di zaman akhir 70 masehi, orang-orang Pompei dipercaya memiliki peradaban yang luar biasa dan tak kalah dari era modern sekarang ini. Sayangnya, segala hal yang dimiliki Pompeii, berbanding terbalik dengan kelakuan masyarakatnya yang sangat amoral.

Ya, Pompeii disebut sebagai kota mesum. Dewa yang mereka sembah adalah Falus dan Palic, yang merupakan lambing dari kemesuman.

Patung-patung kedua dewa yang dikenal dengan Tindakan porno nya itu banyak dipajang di tempat umum.

Kebebasan seksual di Pompeii disebut sebagai yang paling parah dalam sejarah. Tak heran, hubungan antar sesama jenis pun tidak dilarang di sana. Hal itu bisa dibuktikan dengan beberapa penemuan fosil-fosil yang terawetkan secara alami oleh lahar dari letusan gunung Vesuvius yang meluluhlantakkan Pompeii dan seluruh kebejatan masyarakatnya. Begitu banyak jasad yang masih utuh dan dalam posisi bercinta dengan sesama jenis.

Selain homoseksual, di Pompeii denyut nadi aktivitas masyarakatnya hampir selalu berkaitan dengan seksualitas. Hampir semua rumah dijadikan tempat bordil untuk memuaskan hasrat seksual penduduknya. Bisa dibilang Pompeii pada saat itu adalah surganya perzinahan.

Tak puas berzinah di rumah bordil, masyarakat Pompeii juga doyan melakukan kegiatan intim di jalanan. Jadi tak heran jika pemandangan pasangan yang tengah bercinta di jalanan adalah hal yang paling wajar. Mereka tak lagi memiliki rasa malu. Masyarakat setempat masa itu benar-benar tak ada bedanya dengan hewan.

LGBT dalam Kacamata Hukum Islam

Isu soal LGBT dalam kacamata hukum Islam tentu saja dikembalikan ke sumber hukum utama yaitu Alquran, hadis, dan ijmak para ulama sebagai dasar melihat setiap permasalahan.

Dalam Islam praktik homoseksual disebut Liwath. Menurut Imam Mawardi dalam Al-Hawi Al Kabir, jika sebutan untuk gay adalah Liwat, maka untuk lesbian disebut sebagai sihaq.

Praktik liwath jelas dilarang dalam Islam. Hal ini berdasarkan nas Alquran surah al-A’raf ayat 80, “Dan (Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?
Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.”

Dari surah tersebut, jelas bahwa Allah SWT mengharamkan homoseksual dan menyebutnya sebagai perbuatah keji. Orang yang melakukan perbuatan ini juga disebut melampaui batas.

Sementara menurut hadits, orang yang melakukan hubungan seperti ini digambarkan oleh Rosulullah SAW bahwa Allah SWT enggan melihat kepada mereka. (HR Tirmizi dan Nasai) seperti sabda Rosulullah SAW yang diriwayatkan HR Nasai;

“Sesungguhnya Allah SWT melaknat siapa saja yang melakukan perbuatan kaum Luth (Liwath), dan beliau mengulangi ucapan tersebut sebanyak tiga kali.”

Sementara itu, di Indonesia sendiri Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada akhir 2014 juga mengeluarkan fatwa soal homoseksualitas, sodomi, dan pencabulan.

Ada beberapa poin yang dikeluarkan Komisi Fatwa MUI soal masalah ini. Pertama penegasan jika hubungan seksual yang sah hanya boleh dilakukan suami istri. MUI menyebut orientasi seksual terhadap sesama jenis atau homoseksual adalah bukan fitrah, tetapi kelainan yang harus disembuhkan.

Kemudian, menegaskan hukum homoseksual, MUI memfatwakan pelampiasan hasrat seksual kepada sesama jenis hukumnya haram. Tindakan tersebut merupakan kejahatan atau jarimah dan pelakunya dikenakan hukuman, baik had maupun takzir oleh pihak yang berwenang.

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close