Nasional

Anggota Komisi X: Momen Hardiknas Harus Dijadikan Evaluasi Dunia Pendidikan

Jakarta – Anggota Komisi X DPR RI, Rojih Ubab mengatakan momen Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei 2021 ini harus dijadikan evaluasi bagi dunia pendidikan di Indonesia.

“Beragam persoalan terus mewarnai dunia pendidikan kita akhir -akhir ini. Di momen peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2021 masih terlihatnya carut marut dunia pendidikan. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama evaluasi diri,” jelasnya.

Berawal dari, hilangnya Frasa Agama dari Visi Pendidikan 2035 yang disusun dalam Peta Jalan Pendidikan menuai kritik dari berbagai kalangan. Draf Peta Jalan Pendidikan menyebut Visi Pendidikan Indonesia 2035 adalah ‘Membangun rakyat Indonesia untuk menjadi pembelajar seumur hidup yang unggul, terus berkembang, sejahtera dan berakhlak mulia dengan menumbuhkan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila’.

“Padahal keberadaan agama sangat mendominasi keberlanjutan pendidikan di negeri ini,” jelasnya.

Selanjutnya, terbitnya PP 57 Tahun 2021 Tentang Standar Pendidikan Nasional sangat mengejutkan khalayak ramai khususnya para pemerhati dan pelaku pendidikan.

“Hal ini disebabkan karena hilangnya Bahasa Indonesia dan Pancasila pada PP tersebut dari Kurikulum yang wajib di ajarkan pada perguruan tinggi,” katanya.

Belum lama ini, kata pria yang akrab disapa Gus Rojih ini, terbitnya Kamus sejarah Indonesia jilid I yang telah menghilangkan para Tokoh pelaku sejarah khususnya hilangnya nama Hadratus Syaich KH. Hasyim Asy’ari.

“Kejadian ini kembali menuai kritik yang keras khususnya dari kalangan NU, hal ini dianggap telah mengaburkan sejarah perjalanan bangsa ini.Sejarah sebuah bangsa sangat penting untuk membangun peradaban di masa yang akan datang. Tidak ada satu bangsa yang menjadi besar tanpa memahami dan mempelajari sejarah leluhurnya. Karena itu, penulisan sejarah yang jujur merupakan tanggung jawab semua elemen bangsa,” paparnya.

Momen peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, kata Rojih, harus dijadikan evaluasi bersama bukan hanya pemerintah dan praktisi pendidikan, tetapi bagi seluruh elemen masyarakat.

“Karena dengan pendidikan ini tentu akan menentukan nasib bangsa, maju atau mundurnya sebuah bangsa,” tandasnya.

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close