Politik

Partai Ummat, Amien Rais Sudah Kehilangan Momentum

Sinarpembaruan.com-Jakarta, Prof Azyumardi Azra cendekiawan Muslim sekaligus pemerhati politik meyakini partai-partai yang baru terbentuk tidak akan mendapatkan suara. Salah satunya Partai Ummat yang didirikan oleh Mantan Ketua Umum PAN, Amien Rais.

Azra menilai, nama Amien Rais sebagai pendiri Partai Ummat tidak akan bisa menjamin partai tersebut bisa lolos ke ambang batas parlemen. Dia pun menyarankan politikus senior itu untuk mengistirahatkan diri dari dunia politik saja.

“Partai Amien Rais (Partai Ummat) saya kira sudah tidak akan dapat suara, Amien Rais sudah kehilangan momentumnya, jadi menurut saya dia harusnya duduk-duduk saja sambil baca-baca zikir. Itu mungkin lebih bagus ya,” kata Azra saat menghadiri diskusi virtual bertema Parpol Baru dan Dinamika Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Moya Institute, Kamis (3/2).

Menurutnya, untuk bersaing dalam pemilihan legislatif (Pileg) 2024 mendatang sangat lah sulit. Sekalipun partai tersebut memiliki pendanaan yang cukup ataupun pendirinya pernah menduduki kursi-kursi petinggi negara ini.

Misalnya, kata Azra, yakni Amien Rais yang merupakan mantan Ketua MPR. Oleh sebab itu, Azra menyarankan para pendiri partai baru untuk mencari cara lain untuk memperoleh suara yang signifikan agar bisa memenangkan partainya.

“Partai yang kuat keuangannya pun tidak bisa masuk parlemen. Misalnya Perindo, walau didukung Hari Tanoe yang mengklaim sebagai grup media terbesar di Asia Tenggara, tetap saja tidak bisa masuk. Jadi Partai Pak Mahfud (Partai Gelora) walau didukung kekuatan uang sekalipun tidak akan memberikan jaminan,” kata Azra

“Lalu Partai Bulan Bintang, walaupun pimpinannya Yusril Ihza yang dikenal orang, partainya kan tidak dipilih juga, tidak laku juga, begitu pun partai Amien Rais itu,” Imbuhnya.

Seperti yang diketahui, Yusril Ihza Mahendra pernah tiga kali menjabat sebagai menteri dalam kabinet pemerintahan Indonesia, namun partainya tidak memperoleh suara lebih dari ambang batas parlemen yang sudah ditentukan yakni 5 persen. Bahkan pada Pemilu 2019, berdasarkan hasil hitung cepat berbagai lembaga survei, suara PBB tidak mencapai angka 1 persen.

Meskipun begitu, kata Azra, harus diakui bahwa masih ada partai yang terbilang masih baru namun dia bisa memenangkan Pileg karena dukungan dana yang cukup atau karena tokoh pendirinya. Kedua partai itu, yakni Gerindra yang baru berdiri tahun 2008 dan Nasdem yang baru berdiri pada tahun 2011. Seperti yang diketahui, Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen dan Gerindra 12,57 persen pada Pemilu 2019.

Oleh sebab itu, dia pun menyarankan pendiri partai yang baru didirikan pada tahun 2020 ini untuk mencari strategi khusus agar bisa seperti Nasdem. Azra pun menilai, Nasdem bisa mendapat perolehan suara hingga 9,05 persen pada Pemilu 2019 karena dukungan media pemilik Partai yang sangat berperan besar, yakni Surya Paloh.

“Nasdem itu didukung media yang dikampanyekan terus menerus oleh grup medianya. Baik cetak maupun elektronik. Lalu Gerindra itu karena faktor Prabowo yang sudah lama malang melintang,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah berpesan kepada keempat partai yang baru didirikan tahun 2020 itu untuk mempunyai strategi khusus jika ingin betul-betul bersaing dengan partai-partai lainnya yang lebih senior.

“Ini tantangan bagi partai-partai baru, bukan tidak mungkin tapi kalau dilihat pengalaman yang lalu, ini sulit sekali. Mungkin para pendiri partai baru bisa cari terobosan baru agar bisa memenangkan partainya,” kata Azra.

“Yang meromantisme masa lalu, kan tidak laku juga tapi sekarang malah muncul Partai Masyumi Reborn. Dulu Pemilu 2004 atau 2009 padahal banyak partai yang mengklaim sebagai pewaris Mayumi tapi kan gagal juga,” ujarnya (Merdeka.com)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close