Ekonomi

PPP Dorong Pemerintah untuk Tingkatkan Perdagangan dengan Dunia Arab

Sinarpembaruan.com, JAKARTA-Anggota Komisi VI DPR RI, Elly Rachmat Yasin mengharapkan pemerintah Indonesia melihat peluang meningkatkan perdagangan Indonesia – Kawasan Arab. Apalagi saat ini kawasan tersebut potensial untuk produk manufaktur, selain pasarnya yang besar.

Indonesia kalah ekspansif dengan negara Asean lainnya seperti Thailand dan Malaysia.

“Kami prihatin bahwa pasar Timur Tengah yang semula menyukai produk makanan dan minuman asal Indonesia kini bergeser ke produk Malaysia dan Thailand. Ekspor Indonesia ke Timur Tengah selama ini masih kecil, yakni 5% yang ekspor langsung. Namun, bila diakumulasi dengan yang ekspor melalui Singapura dan Malaysia bisa sampai 10%,”  kata Elly yang juga merupakan anggota Panja Komoditas Ekspor Komisi VI DPR RI  tersebut.

Ia yakin Indonesia masih bisa meningkatkan ekpor komoditas seperti kendaraan bermotor, emas, CPO sawit dan kertas yang selama ini sudah berjalan. Juga peluang besar untuk ekspor furnitur dan bahan bangunan kayu, serta komoditas lainnya.

“Segeralah pemerintah persiapkan segala kebutuhan untuk memperbaiki kerjasama perdagangan dengan negara-negara Arab. Tentu dengan memperbaiki kualitas produk yang akan kita ekspor,” tambah politisi PPP asal Bogor tersebut.

DPR menurutnya terus mendorong Menteri Perdagangan agar segera membentuk pakta kerjasama dagang dengan Timur Tengah. Pakta perdagangan tersebut merupakan kunci masuk bagi ekspor RI kepada negara-negara Arab melalui kerjasama kawasan teluk (Gulf Cooporation Council/GCC). Yang terdiri dari Arab Saudi, Bahrain, Kwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Baca Juga :  Presiden Jokowi: Sudah Bagus Ekonomi Tumbuh 5,02%

“Negara-negara kaya minyak Timur Tengah kini masih merasakan dampak pandemi. Perekonomian mereka masih lesu karena harga minyak masih bertahan di kisaran 40 dollar AS per barel. Harga minyak global sebelum pandemi pernah menembus pada kisaran 157 dollar AS per barel. Sejak pandemi melanda dunia harganya terus menurun menjadi 67 dollar AS per barel. Bahkan pada April 2020 lalu sempat menyentuh harga 16 dollar AS,” ulas elly.

Di samping harga minyak yang masih lemah, penggunaan minyak dunia pun turun drastis. Kalaupun pandemi selesai, para pengamat memperkirakan Timur Tengah masih mengalami kesulitan untuk bangkit seperti sediakala. Amerika Serikat dan Eropa juga terimbas pandemi sehingga tidak serta merta bisa membantu perekonomian negara-negara Arab tersebut. (Is)

Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button
Close
Close